Showing posts with label Kimia Anorganik. Show all posts
Showing posts with label Kimia Anorganik. Show all posts

Tuesday, 3 March 2020

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I : PEMBUATAN KALIUM IODAT

PEMBUATAN KALIUM IODAT

A.    TUJUAN
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang proses pembuatan kalium iodat.
B.     LANDASAN TEORI
Pengukuran kadar air garam fortifikasi perlu dilakukan karena faktor kelembaban sangat berpengaruh terhadap stabilitas garam, apalagi GFG ini dibuat tanpa menggunakan zat penstabil semacam NaHMP yang dapat mengkhelat besi. Sifat kalium iodat yang larut air akan mungkin menyebabkan turunnya kadar iodium bila kadar air meningkat. Di samping itu faktor kelembaban memacu terbentuknya warna kuning kecoklatan pada garam. Maka dengan hasil penelitian kadar air kurang dari 5 % akan menjaga tingkat kekeringan GFG, sehingga dengan demikian warna GFG tetap terjaga tidak mengalami perubahan warna sejak pencampuran sampai penyimpanan 6 bulan (Soeid, at all., 2006).
Standar yang digunakan sebagai sumber iodium adalah larutan kalium iodat, sehingga intensitas iodium yang dihasilkan dari alat dapat dikonversi sebagai kalium iodat. Untuk menghindari gangguan matriks yang disebabkan oleh perbedaan matriks sampel dan standar maka dalam pengukuran dilakukan metode standar adisi yaitu penambahan unsur Barium (Ba) pada matriks sampel. Dari hasil penambahan unsur Barium ini ternyata tidak ada gangguan intensitas dari perbedaan matriks, sehingga perbedaan matriks ini tidak mengganggu pengukuran. Hasil pengujian XRF terhadap larutan sampel yang telah diketahui konsentrasinya menunjukkan hasil yang cukup memadai (Saksono, 2002).
Pembuatan larutan Na-tiosulfat 0,02 N. Terlebih dahulu dibuat larutan Na-tiosulfat 1 N (248,2 g Natiosulfat/L). Larutan Na-tiosulfat 1 N dibiarkan 1 minggu atau lebih kemudian diencerkan menjadi 0.02 N. Pengenceran dilakukan dengan menggunakan air suling yang telah dididihkan terlebih dahulu dan ditambah 1 g Na2 CO3 untuk mengeluarkan CO2. Standarisasi larutan Na-tiosulfat 0.02 N dengan KIO3. Ditimbang sebanyak 500 mg kalium iodat (KIO3) kemudian dilarutkan dengan akuades menjadi 100 mL. Sebanyak 25 mL larutan tersebut diambil dan ditambahkan ke dalam erlenmeyer 500 mL yang telah berisi 10 mL KI 20% dan 25 mL HCl 4 N. Dilakukan titrasi dengan larutan Na-tiosulfat 0,02 N hingga warna larutan menjadi kuning. Ditambahkan larutan kanji (starch solution) 1%, dititrasi kembali sehingga timbul warna biru (Praptiwi, at all., 2006).
Penentuan kandungan iodat dalam berbagai sampel telah dilakukan dengan berbagai metode, dimana pada umumnya metode-metode ini belum dapat memisahkan dan menetapkan kandungan spesi-spesi iodium secara spesifik. Titrasi iodometri yang sering digunakan dalam analisis iodat, tidak hanya menentukan kandungan kalium iodat melainkan juga semua oksidator yang ada dalam larutan, sehingga menyebabkan adanya kenaikan kandungan iodat dalam sampel garam beriodium. Oleh karena itu, metode titrasi iodometri dianggap kurang tepat untuk menganalisis kandungan kalium iodat dalam garam beriodium. Masih ada perbedaan pendapa t (kontroversi) mengenai penurunan/hilangnya kadar iodat dalam garam beriodium selama pengolahan, penyimpanan dan pemasakan yang disebabkan perbedaan metode analisis yang digunakan. Untuk membuktikan keberadaan spesi iodium lain dalam garam beriodium dan makanan diperlukan suatu metode analisis yang lebih spesifik, cermat dan seksama (Anonim, 2006).

C.    ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
-          Labu alas bulat 100 ml
-          Gelas kimia 600 ml
-          Pipet tetes
-          Hot plate
2.      Bahan
-          Kalium klorat
-          Iodium
-          Asam nitrat pekat
-          KOH 10 %
-          Natrium tiosulfat 0,1 N
-          Aquades
-          Larutan kanji



 UNTUK MENDOWNLOAD FULL LAPORAN INI (file doc.) KLIK DISINI 


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I : GARAM MOHR



GARAM MOHR


A.    Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah Untuk mengetahui teknik dan cara pembuatan garam rangkap atau garam mohr.

B.     Landasan Teori
Garam Mohr (NH4)2SO4.[Fe(H2O)6]SO4 cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya air, dan umumnya dipakai untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetrik dan sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik. Sebaiknya FeSO4.7H2O secara lambat melapuk dan berubah menjadi kuning coklat bila dibiarkan dalam udara. Penambahan HCO3- atau SH- kepada larutan akua Fe2+ berturut-turut mengendapkan FeCO3 dan FeS. Ion Fe2+ teroksidasi dalam larutan asam oleh udara menjadi Fe3+. Dengan ligan-ligan selain air yang ada, perubahan nyata dalam potensial bias terjadi, dan system FeII – FeIII merupakan contoh yang baik sekali mengenai efek ligan kepada kestabilan relatif dari tingkat oksidasi.
Ion ferro [Fe(H2O)6]2+ memberikan garam berkristal. Garam mohr (NH4)2SO4. Fe(H2O)6 SO4 cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya air, dan umumnya dipakai untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetri, dan sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik. Sebaliknya FeSO4.7H2O secara lambat melapuk dan berubah menjadi kuning cokelat bila dibiarkan dalam udara. (http://sitzkrieg-awan.blogspot.com/2009/04/kimia-garam-mohr).
Garam mohr, besi ammonium sulfat, merupakan garam rangkap dari besi sulfat dan ammonium sulfat dengan rumus molekul [NH4]2[Fe][SO4]2·6H2O. Garam mohr lebih disukai dari pada besi (II) sulfat untuk proses titrasi karena garam mohr tidak mudah terpengaruh oleh oksigen bebas di uadara/ tidak mudah teroksidasi oleh udara bebas dibandingkan besi (II) sulfat   (http://en.wikipedia.org/wiki/Mohr_salt).
Kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya bisa berupa kristal tunggal, yang semua atom-atom dalam padatannya "terpasang" pada kisi atau struktur kristal yang sama, tapi, secara umum, kebanyakan kristal terbentuk secara simultan sehingga menghasilkan padatan polikristalin. Misalnya, kebanyakan logam yang kita temui sehari-hari merupakan polikristal.Struktur kristal mana yang akan terbentuk dari suatu cairan tergantung pada kimia cairannya sendiri, kondisi ketika terjadi pemadatan, dan tekanan ambien. Proses terbentuknya struktur kristalin dikenal sebagai kristalisasi.      (http://id.wikipedia.org/wiki/Kristal).
Unsur besi (Fe) dalam suatu sistem Periodik Unsur (SPU) termasuk ke dalam golongan VIII. Besi dapat dibuat dari biji besi dalam tungku pemanas. Biji besi biasanya mengandung Fe2O3 yang dikotori oleh pasir (SiO2) sekitar 10%, serta sedikit senyawa sulfur, fosfor, aluminium, dan mangan. Besi dapat pula dimagnetkan.
Endapan pasir besi, dapat memiliki mineral-mineral magnetik seperti magnetik (Fe3O4), hematit (α- Fe2O3), dan maghemit (γ- Fe2O3). Mineral-mineral tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bahan industri. Magnetit, misalnya, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk tinta kering (toner) pada mesin photo-copy dan printer laser, sementara maghemit adalah bahan utama untuk pita-kaset. (http://annisanfushie.wordpress.com/2008/12/26/garam-mohr-nh426h2o/).
Jika kita gunakan definisi konvensional yang menyatakan bahwa hablur atau kristal adalah padatan homogen yang dibatasi oleh bidang muka rata yang terbentuk secara alamiah, maka adalah benar bahwa kebanyakan padatan yang kita jumpai dalam hidup sehari-hari tidak nampak sebagai kristal. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh salah satu dari dua hal berikut : pada satu pihak, banyak padatan merupakan campuran dari berbagai senyawa yang biasanya terdiri dari banyak molekul besar dengan berbagai ukuran. Tetapi kalau bahan tersebut dipisah-pisahkan untuk menghasilkan senyawa murni, maka cenderung terjadi struktur kristal. Misalnya, beberapa jenis protein dan selulosa, yang keduanya adalah bahan penyusun padatan yang terjadi secara alamiah telah diperoleh dalam tahanan kristal, walaupun kedua zat tersebut tidak ditemukan di alam dalam tahanan kristal (http://annisanfushie.wordpress.com/pemurnian-bahan-melalui-rekristalisasi).

C.     Alat dan Bahan

1.      Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah gelas kimia 100 ml, batang pengaduk, corong, erlenmeyer 50 ml, hot plate pipet ukur 50 ml dan 25 ml serta timbangan analitik,  

2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah serbuk besi 5 gram, asam sulfat 10 %, amoniak pekat dan aquades.

UNTUK MENDOWNLOAD FULL LAPORAN INI (file doc.) KLIK DISINI 






Monday, 8 April 2013

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II: SINTESIS KLOROPENTAAMIN KOBALT KLORIDA



SINTESIS KLOROPENTAAMIN KOBALT KLORIDA
A.    Tujuan Percobaan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada percobaan ini adalah untuk memberi gambaran tentang proses pembuatan kompleks kloropentaamin kobalt klorida [Co(NH4)5Cl]Cl2.

B.    Landasan Teori
Kelompok ion logam sel tertutup yang telah dipelajari adalah: ion logam golongan Cu(I), Ag(I), Ap(I) - yang menempati batas antara logam transisi dan unsur golongan utama. Senyawa kompleks dari ion logam golongan 11 yang berhasil disintesis dengan ligan yang merupakan basa Lewis monodentat dari unsur golongan 15 ini terdiri dari berbagai macam stoikiometri dan struktur.[3, 5, 9-21, 23-34, 3940, 42, 43, 47-50, 53] Struktur Senyawa kompleks tersebut dapat berupa monomer, dimer, tetramer, oligomer atau polimer, yang menunjukkan adanya kecenderungan terjadinya kesamaan struktur antara senyawa kompleks dari Cu(I), Ag(I) dan Au(I) yang ketiganya mempunyai konfigurasi elektron [gas mulia]nd10. Beberapa senyawa kompleks dari ion logam golongan .12 - Zn(II), Cd(II) dan Hg(II) - dengan ligan monodentat dari unsur golongan 15, terutama nitrogen, dengan berbagai macam stoikiometri dan struktur telah berhasil disintesis [ 1, 2, 7, 8, 22, 35, 37, 41, 44-46, 51, 52] tetapi belum dipelajari secara sistematik. Pelengkapan data struktur ini hanya dapat diperoleh melalui sintesis langsung (Farianti, 2000).
Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan menggunakan metode reaksi langsung antara garam seng(II) nitrat dan ligan 8-hidroksikuinolina dengan atau tanpa ion sianida. Sintesis senyawa kompleks dari Zn(II)dengan ligan 8-hidroksikuinolina (selanjutnya disebut sebagai kompleks I) menggunakanperbandingan mmol 1:2 dalam pelarut metanol, sedangkan sintesis senyawa kompleksdari Zn(II) dengan ligan 8-hidroksikuinolina dan ion sianida (selanjutnya disebut sebagaikompleks II) menggunakan perbandingan mmol 1:2:2 dalam pelarut metanol. Kristalisasidilakukan pada suhu ruang dengan cara penguapan perlahan. Karakterisasi senyawakompleks meliputi penentuan titik lebur, penentuan gugus fungsi dengan spektroskopi IR,uji AAS, penentuan lmaks dengan spektroskopi UV-Vis, penentuan jumlah ligan yangterikat dengan metode Job's, uji kualitatif ion sianida, dan uji konduktivitas (Figianti, 2007).
Penelitian tentang sintesis senyawa kompleks yang telah dilakukan diantaranya adalah senyawa kompleks [Cu(quin)2(H2O)4] dan [Cu(oxine)2(H2O)2] (Ghofir, 2005), [Co(quin)(H2O)5] dan [Co(oxine)2Cl(H2O)] (Puspitasari, 2006). Metode yang digunakan pada penelitian tersebut adalah metode reaksi langsung dengan pengadukan, yaitu mereaksikan garam dengan ligan yang disertai pengadukan dan pemanasan. Penelitian tersebut masih terdapat kelemahan-kelemahan, diantaranya adalah pada senyawa kompleks [Cu(quin)2(H2O)4] dan [Co(quin)(H2O)5] diketahui bahwa jumlah ligan kuinolin yang terikat belum optimal, karena ligan H2O yang terikat pada ion pusat Cu2+ lebih banyak daripada ligan kuinolin. Ligan H2O dapat digantikan dengan ligan lain dengan cara mensubtitusi. Pada penelitian tersebut juga diketahui bahwa senyawa kompleks [Cu(quin)2(H2O)4] dan [Co(quin)(H2O)5] merupakan kompleks kation yang memiliki anion kecil berupa NO3- dan Cl-. Dari data hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks kation dapat mengikat kompleks anion (Setiawan, 2008)
Salah satu sifat unsur transisi adalah mempunyai kecenderungan untuk membentuk ion kompleks atau senyawa kompleks. Ion-ion dari unsur logam transisi memiliki orbital-orbital kosong yang dapat menerima pasangan elektron pada pembentukan ikatan dengan molekul atau  anion tertentu membentuk ion kompleks. Ion kompleks terdiri atas ion logam pusat dikelilingi anion-anion atau molekul-molekul membentuk ikatan koordinasi. Ion logam pusat disebut ion pusat atau atom pusat. Anion atau molekul yang mengelilingi ion pusat disebut ligan. Banyaknya ikatan koordinasi antara ion pusat dan ligan disebut bilangan koordinasi (Maulana, 2009).
Unsur  transisi  periode keempat dapat membentuk berbagai jenis ion kompleks. Ion kompleks terdiri dari kation logam transisi dan ligan. Ligan adalah molekul atau ion yang terikat pada kation logam transisi. Interaksi antara kation logam transisi dengan ligan merupakan reaksi asam-basa Lewis. Menurut Lewis, ligan merupakan basa Lewis yang berperan sebagai spesi pendonor (donator) elektron. Sementara itu, kation logam transisi merupakan asam Lewis yang berperan sebagai spesi penerima (akseptor) elektron. Dengan demikian, terjadi ikatan kovalen koordinasi (datif) antara ligan dengan kation logam transisi pada proses pembentukan ion kompleks. Kation logam transisi kekurangan elektron, sedangkan ligan memiliki sekurangnya sepasang elektron bebas (PEB). Beberapa contoh molekul yang dapat berperan sebagai ligan adalah H2O, NH3, CO, dan ion Cl- (Andy, 2009).

C.    Alat dan Bahan
  1. Alat  
Alat-alat  yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
-        Gelas kimia
-        Pipet ukur
-        Filler
-        Desikator
-        Elektromantel
  1. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
-        Amonium karbonat
-        Air
-        Amoniak pekat
-        Kobalt (II) klorida
-        Ammonium klorida
-        HCl pekat
-        HCl 6 M
-        Ammonia 1 M
            -    Etanol

     UNTUK MENDOWNLOAD FULL LAPORAN INI (file doc.) KLIK DISINI

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II: PEMBUATAN TAWAS DARI KALENG ALUMINIUM BEKAS



PEMBUATAN TAWAS DARI KALENG ALUMINIUM BEKAS
A.  Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu untuk mempelajari pembuatan tawas dari aluminium foil.
B.  Landasan Teori
Tawas adalah garam sulfat rangkap terhidrat dengan formula M+M3+ (SO4)2.12H2O. M+ merupakan kation univalen, umumnya Na+, Fe+, Cr+, Ti3+ atau Co3+, tawas biasa dikenal dalam kehidupan sehari-hari adalah amonium sulfat dodekahidrat.
Beberapa contoh tawas, cara membuat dan kegunaannya:
1.    Natrium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas natrium) dengan formula NaAl(SO4)2. 12h2O digunakan sebagai serbuk pengembang roti.
2.    Kalium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas kalium) dengan rumus KAl(SO4)2. 12H2O digunakan dalam pemurnian air, pengolahan limbah, dan bahan pemadam api. Tawas kalium dibuat dari logam aluminium dan kalium hidroksida. Logam aluminium bereaksi secara cepat dengan KOH panas menghasilkan larutan garam kalium aluminat.
2Al(s) + 2K+(aq) + 2OH-(aq) + 6H2O(l) ——> 2K+(aq) + 2Al(OH)4-(aq) + 3H2(g)
ion aluminium, Al(OH)4- yang bersifat ampoter jika direaksikan dengan asam sulfat, diendapkan sebagai aluminium hidroksida, tetapi larut pada pemanasan.
2K+(aq) + 2Al(OH)4-(aq) + 2H+(aq) + SO42-(aq) —–> 2Al(OH)3(s) + 2K+(aq) + SO42-(aq) + 2H2O(l)
2Al(OH)3(s) + 6H+(aq) + 3SO42-(aq) —–> 2Al3+(aq) + 3SO42-(aq) + 6H2O(l)
jika larutan kalium aluminium sulfat dodekahidrat yang hampir jenuh didinginkan maka akan terbentuk kristal-kristal yang berbentuk oktahedron.
3. Amonium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas amonium) dengan formula NH4Al(SO4)2.12H2O digunakan sebagai acar ketimun.
4. Kalium kromium(III) sulfat dodekahidrat (tawas kromium) dengan formula KCr(SO4)2.12H2O digunakan sebagai penyamak kulit dan bahan pembuat kain tahan api. tawas kromium dapat diperoleh dengan cara mereduksi ion dokronat dari kaliium dikromat K2Cr2O7, menjadi kromium(III) dalam larutan asam sulfat dengan reduktor etanol, C2H5OH.
8H+(aq) + CrO72-(aq) + 3C2H5OH(aq) —–> 3CH3CHO(aq) + 2Cr3+(aq) + 7H2O(l)
ion sulfat dari asam sulfat dan ion kalium dari kalium dikromat bergabung dengan ion kromium(III) membentuk kristal tawas kromium yang terbentuk oktahedron dan berwarna violet sampai hijau gelap jika larutan yang pekat didinginkan.
K+(aq) + Cr3+(aq) + 2O42-(aq) + 12H2O(l) —–> KCr(SO4)2. 12H2O(c)
5. Amonium besi(III) sulfat dodekahidrat (tawas besi(II)) dengan formula NH4Fe(SO4)2.12H2O digunakan untuk mordan pada pewarnaan tekstil. Tawas ini dibuat dengan mengoksidasi ion besi(II) menjadi ion besi(III) dengan asam nitrat dalam larutan amonium sulfat.
2H+(aq) + NO3-(aq) +Fe2+(aq) —–> Fe3+(aq) + NO2(g) + H2O(l)
ion amonium dan ion sulfat dari amonium sulfat, (NH4)SO4, mengkristalkan ion besi(III) sebagai tawas besi(III).
NH4+(aq) + Fe3+(aq) + 2SO42-(aq) + 12H2O(l) —–> NH4Fe(SO4)2. 12H2O(c)
Untuk setiap kali pembuatan tawas, sebagian pelarut mungkin perlu dikurangi dengan cara penguapan untuk menghasilkan larutan jenuh yang kemudian menghasilkan kristal tawas pada waktu didinginkan. Untuk mendapatkan kristal yang berukuran besar, pendinginan larutan jenuh harus dilakukan secara pelan-pelan.
(Zulkhaidir, 2010).
Tawas adalah senyawa kimia berupa garam sulfat yang memiliki banyak sekali ragamnya salah satunya yang paling populer adalah Aluminum Sulfat yang banyak digunakan oleh PDAM untuk memproses air sungai menjadi ari bersih (oleh karena itu disebut juga dengan nama populer Alum). Oh ya jangan tertukar dengan istilah Kaporit ya, yang digunakan untuk mematikan bakteri pada air. Jenis tawas lainnya adalah seperti Tawas Natrium untuk bahan pengembang roti, Tawas Kalium untuk pengolah limbah, Tawas Besi untuk penyamakan kulit dan bahan pewarna (Denny, 2010).
Sejumlah garam aluminium seperti golongan IIA, mengkristal dalam larutannya sebagai hidrat. Sebagian dari hidrat ini amat larut dalam air dan bersifat delikuesen, misalnya AlX3.6H2O, Al(NO3)3.9H2O. selanjutnya segi-segi kimia tertentu dari senyawa aluminium dalam air diturunkan dari sifat ion aluminium trihidrat [Al(H2O)6]3+. Senyawa-senyawa aluminium, bentuk alami dari kebanyakan senyawa aluminium diturunkan dari oksida (Al2O3) dan bermacam-macam oksida terhidrat. Misalnya Al2O3.H2O dan Al2O3.3H2O. senyawa oksida jka direaksikan denganasam sulfat menghasilkan aluminium sulfat pekat panas.
Al2O3 + H2O4 → Al2(SO4)3 + 3H2O
Senyawa ini mengkristal dari larutan sebagai Al2(SO4)3.18H2O.
Larutan berair yang mengandung jumlah molar yang sama dari Al2(SO4)3 dan K2SO4 mengkristal sebagai kalium aluminium sulfat (KAl(SO4)2.12H2O). garam ini yang dikenal dengan patas alum atau tawas, termasuk dalam golongan, termasuk dalam golongan senyawa dengan nama alum atau tawas. Alum mempunyai mempunyai rumus M(I) M(III) (SO4)2.12H2O dimana M(I) dapat berupa kation apa saja kecuali Li+ dan M(III) adalah kation bermuatan positif tiga (Al3+, Ti3+, V3+, Cr3+, Mn3+, Fe3+, Co3+, Ga3+, In3+, Re3+, Ir3+). Alum mengandung ion [M(H2O)6]+, [M(H2O)6]3+ dan SO42- dengan nisbah 1 : 1 : 2 alum yang umum mempunyai M(I) = K+ atau NH4+ dan M(III) = Al3+. Li+ tidak membentuk alum karena ion ini terlalu kuat untuk memenuhi syarat sebuah kristal.
Alum mempunyai kegunaan yang sama dengan garam pembentuknya. Satu keguanan penting dari patas alum adalah sebagai zat pewarna. Alum atau tawas (AlK(SO4)2) dapoat dibuat dengan mereaksikan senyawa aluminium sulfat (Al2(SO4)3) dengan kalium sulfat (K2SO4). Reaksi yang terjadi sebagai berikut :
K2SO4 +Al2(SO4)3 → 2KAl(SO4)2
(Puput, 2008).
            Kalium Aluminum sulfat (tawas) mempunyai manfaat yang sangat penting antara lain adalah sebagai pewarna tekstil. Tekstil yang diwarnai, dicelupkan dalam larutan tawas dan dipanaskan dengan uap air, Hidrolisis dari Al(H2O)63+ mengendapkan Al(OH)3 ke atas serat tekstil dan kemudian zat warna diserap oleh Al(OH)3. Selain itu, tawas digunakan sebagai bahan penjernih air dan pengolahan air minum di PDAM dan air buangan industri sebagai koagulan (Agustinus, 2010).
            Alum merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari dari molekul air dan dua jenis garam, salah satunya biasanya Al2(SO4)3. Alum kalium, juga sering dikenal dengan alum, mempunyai rumus formula yaitu K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Alum kalium merupakan jenis alum yang paling penting. Alum kalium merupakan senyawa yang tidak berwarna dan mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan. Larutan alum kalium tersebut bersifat asam. Alum kalium sangat larut dalam air panas. Ketika kristalin alum kalium dipanaskan terjadi pemisahan secara kimia, dan sebagian garam yang terdehidrasi terlarut dalam air. Alum kalium memiliki titik leleh 900ºC (Yuniarti, 2010)
Aluminium, Al merupakan anggota golongan IIIA berada dialam sebadai aluminosilikat dikerak bumi dan lebih melimpah daripada besi. Mineral aluminium yang paling penting dalam metalrugi adalah bauksit AlOx(OH)3-2x (0<x<1). Walaupun Al adalah logam mulia yang mahal diabad ke-19 harganya jatuh bebas setelah dapat diproduksi dengan jumlah besar elektrolisis alumina, Al2O3 yang telah dilelehkan dalam krolit Na3AlF6. namun karena produksinya memerlukan sejumlah besar energi listrik, metalurgi aluminium hanya di Negara dengan harga energi listrik yang rendah. Sifat aluminium dikenal dengan baik dan aluminium banyak digunakan dalam keseharian, misalnya untuk koin, panic dan kusein. Logam aluminium digunakan dengan kemurnian lebih dari 99% dan logam atau paduannya (missal : duralium) banyak digunakan (Saito, 1996)

C.  Alat dan Bahan
1.   Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
P Neraca analitik
P Hot plate
P Gelas kimia 
P Pipet volume 10 mL
P Batang pengaduk
P Filler
P Corong
P Botol semprot
P Pipet tetes
P Gegep
P Kertas saring
2.   Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
P Potongan aluminium
P KOH
P H2SO4 6M
P Indikator metal merah
P Akuades
         P Es batu

      UNTUK MENDOWNLOAD FULL LAPORAN INI (file doc.) KLIK DISINI