PENGARUH
LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA
I.
TUJUAN
Adapun tujuan praktikum ini
yaitu:
1. Mengetahui
pengaruh suhu terhadap pertumbuhan mikroba.
2. Mengetahui
pengaruh tekanan osmotik terhadap pertumbuhan mikroba
3. Mengetahui
pengaruh pH terhadap pertumbuhan mikroba
II.
PRINSIP
DASAR
Faktor yang menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme yaitu :
1. Zat makanan bagi mikroorganisme
Mikroorganisme
memerlukan berbagai jenis makanan untuk pertumbuhanya seperti senyawa karbon,
phosphat dan lain-lain.
2. Temperatur air
Pengaruh
temperatur terhadap pertumbuhan mikroorganisme tergantung pada jenis
mikroorganisme, karena tiap mikroorganisme mempunyai temperatur optimum untuk
pertumbuhan berbeda-beda. Dalam hal ini temperatur optimum adalah antara 300C
– 400C.
3. pH
Umumnya bakteri
tumbuh dengan baik pada rentang pH netral sampai basa. pH optimum pertumbuhan
bakteri adalah pada rentang pH antara 6-9.
4. Oksigen terlarut
Bakteri aerob dan jamur memperoleh energi yang
diperlukan untuk pertumbuhannya dari reaksi dekomposisi oksida zat organik
dengan oksigen terlarut.
5. Sinar matahari
Di antara
mikroorganisme yang tumbuh pada sistem air pendingin hanya lumut yang
memanfaatkan sinar matahari. Sedangkan banyak mikroorganisme lain tidak
memerlukan sinar matahari untuk pertumbuhannya.
6. Jumlah bakteri
Frekuensi
timbulnya masalah lumut rendah apabila bakteri kurang dari 103 bakeri/mL, dan
frekuensi naik apabila jumlah melebihi 106 bakteri/mL.
7. Kekeruhan
Kekeruhan yang
lebih rendah atau lebih jernih, akan lebih baik bagi pencegahan lumut dan
akumulasi lumpur (Lestari dan Setyo, 2009).
Derajat keasaman
(pH) merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan aktivitas bakteri pengoksidasi amonia. Derajat keasaman (pH) optimum untuk pertumbuhan
bakteri pengoksidasi amonia yang bersifat autotrofik berkisar dari 7,5 sampai
8,5 (Ratledge, 1994). Sedangkan bakteri yang bersifat heterotrofik lebih
toleran pada lingkungan asam, dan tumbuh lebih cepat dengan hasil yang lebih
tinggi pada kondisi dengan konsentrasi DO rendah (Agustiyani, et al., 2004).
Cahaya matahari terdiri dari
sinar tampak dan sinar ultraviolet dengan panjang gelombang bervariasi dari
200-800 nm, namun sinar yang dimanfaatkan secara optimal oleh mikroalga untuk
proses fotosintesis yaitu sinar dengan panjang gelombang sekitar 450 dan 680
nm. Secara garis besar pada kedua perlakuan menunjukkan di awal pertumbuhan Chlorella
vulgaris Buitenzorg seperti pada umumnya pertumbuhan mikroorganisme
lainnya, laju pertumbuhan tinggi yang kemudian perlahan menurun yang disebabkan
karena pertumbuhan akan memasuki fasa stasioner. Laju pertumbuhan pada
pencahayaan siklus harian menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada awal
pertumbuhan dibandingkan dengan pencahayaan sinambung, kemudian menurun drastis
ketika kondisi gelap. Pencahayaan sinambung menunjukkan laju pertumbuhan yang
lebih konstan. Semakin tinggi kerapatan sel pada medium kultur menyebabkan
kondisi medium kultur meningkat tingkat kebasaannya (pH semakin tinggi) dan hal
itu menyebabkan terjadinya peningkatan spesi HCO3- dalam medium
kultur (Wijanarko, et al., 2007).
Penurunan jumlah bakteri
disebabkan oleh perbedaan daya tahan mikroba terhadap kadar garam sangat
bervariasi, tergantung dari sifat dinding sel dan tekanan osmotik internal
mikroorganisme tersebut. Selain itu juga, penurunan jumlah total bakteri
menunjukkan fase menuju kematian dan fase kematian. Pada fase ini sebagian
populasi jasad renik mulai mengalami kematian karena beberapa faktor yaitu
nutrien di dalam medium sudah habis, dan energi cadangan di dalam sel sudah
habis (Erungan, et al., 2009).
Pertumbuhan bakteri tergantung pada pH dan kadar air yang ada dalam daging sapi. pH dan kadar air yang rendah akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga total koloni bakteri menjadi rendah. Hal ini didukung oleh Soeparno (1994) yang menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain adalah pH dan kadar air. Selain dipengaruhi oleh zat makanan, perkembangbiakan mikroorganisme juga dipengaruhi oleh faktor kelembaban, temperatur, pH dan ketersediaan oksigen. Penggunaan plastik PP sebagai pengemas daging, dapat mencegah masuknya oksigen sehingga pertumbuhan bakteri dapat dihambat. Menurut Soeparno (1994) permukaan plastik PP lebih licin dan permeabilitasnya terhadap oksigen lebih rendah dibandingkan dengan plastik PE (Yanti, et al., 2008).
Pertumbuhan bakteri tergantung pada pH dan kadar air yang ada dalam daging sapi. pH dan kadar air yang rendah akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga total koloni bakteri menjadi rendah. Hal ini didukung oleh Soeparno (1994) yang menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain adalah pH dan kadar air. Selain dipengaruhi oleh zat makanan, perkembangbiakan mikroorganisme juga dipengaruhi oleh faktor kelembaban, temperatur, pH dan ketersediaan oksigen. Penggunaan plastik PP sebagai pengemas daging, dapat mencegah masuknya oksigen sehingga pertumbuhan bakteri dapat dihambat. Menurut Soeparno (1994) permukaan plastik PP lebih licin dan permeabilitasnya terhadap oksigen lebih rendah dibandingkan dengan plastik PE (Yanti, et al., 2008).
UNTUK MENDOWNLOAD FULL LAPORAN INI (file doc.) KLIK DISINI
2 comments:
trimakasih, ijin ngambil materinya
sama-sama, silahkan
Post a Comment